Kamis, 28 Oktober 2010

Mengulas tentang EDI dan IOS


Pendahuluan
Beberapa tahun lalu, kita semua menyaksikan berkembangnya secara cepat perdagangan secara elektronis baik itu pada tingkat nasional dan Internasional. Masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, untuk memastikan bahwa global standar bekerja didalam elektronik interface dan komunikasi data. Ini dikarenakan perusahaan yang menggunakan teknologi e-commerce sering kekurangan elektronik interface yang sesuai yang dibutuhkan untuk menangkap data dan memproses informasi diantara mitra dagang. Standar komunikasi elektronik sangat dibutuhkan untuk menjadikan biaya electronic commerce menjadi effektif. Cepatnya pertumbuhan dari internet sebagai sebuah kunci jalur komunikasi telah menandai kebutuhan untuk membangun standar komunikasi global yang membuat pertukaran data didalam Electronic Data Interchange secara otomatis dan berdasarkan penggunaan internet.
Pembahasan
Electronic Data Interchange ( EDI )
EDI sering disebut sebagai tulang punggung bagi perdagangan elektronis. Memungkinkan mitra dagang untuk mendapat fasilitas pertukaran secara informasi secara otomatis dari sistem komputer satu ke komputer yang lain secara langsung, berdasarkan sebuah format umum yang terdapat di internet atau Value-Added network ( VAN), dengan demikian dapat menghilangkan campur tangan secara manual.
UN/EDIFACT ( United Nations Electronic Data Interchange For Administration, Commerce and Transport ) secara luas menerima standar pesan EDI. Telah dimulai oleh United nation pada tahun 1980 dan disetujui sebagai standar ISO No.9735 pada tahun 1987.
EANCOM , merupakan subset dari UN/EDIFACT, telah dibangun oleh EAN International pada tahun 1987 sebagai petunjuk pemakaian secara detail bagi UN/EDIFACT. EANCOM' merupakan standard EDI yang paling populer digunakan di Asia dan Eropa dan telah disyahkan oleh Board Purchasing Working Group EDIFACT sebagai standar EDI untuk usaha pengadaan di Asia.
Hambatan Penerapan EDI
Susahnya, sebuah rantai-pasok umumnya melibatkan perusahaan-perusahaan dari berbagai ukuran, dengan beragam pola-kerja dan peringkat penggunaan teknologi informasi yang tidak selalu sepadan. Penggunaan EDI banyak dianggap hanya menambah biaya dan memusykilkan pekerjaan. Menyebutkan bahwa IOS hanya sukses apabila diberlakukan pengendalian yang terpusat atas semua komponen teknologi informasi yang digunakan. Mulai dari perangkat-keras dan antarmuka jejaring yang digunakan sampai kepada format dan bakuan data yang dipertukarkan, diperlukan pengaturan yang ketat. Dengan istilah lain, di bilangan IOS tidak ada demokrasi teknologi. EDI, yang diperankan sebagai bakuan dari tata-kendali atas pertukaran data dalam sebuah penerapan IOS, mendapatkan porsi enforcement yang cukup vital. Dalam kaitan ini, bagian-bagian dari rantai-pasok yang kurang mendukung komputerisasi tidak jarang yang merasa „terpaksa” untuk menerapkannya. Akibatnya, dapatlah dikatakan bahwa entry barrier untuk masuk ke jejaring EDI sampai pertengahan tahun 1990an cukup tinggi.

Setelah internet dideregulasi sekitar pertengahan 1990an, demokratisasi jejaring IOS semakin berkembang. Biaya berjejaring relatif semakin murah, komputer semakin terbeli, dan teknologinyapun semakin terkuasai oleh orang banyak. Sampai tahun 1997, nyaris seluruh transaksi EDI dilakukan melalui value-added networks (VANs) yang umumnya menggunakan leased lines yang dioperasikan dalam konteks tertutup (closed-user groups). Pengaruh perkembangan teknologi informasi, terutama internet punya pengaruh kental. Ken Vollmer dari Giga Information Group di Cambridge, Massachusetts, pada pertengahan tahun 2000 memperkirakan bahwa dalam paruh pertama dasawarsa 2000an, setidaknya 50% dari lalu-lintas EDI akan melewati internet.

Tulisan Fred Hapgood yang dimuat dalam majalah CIO edisi bulan Mei 2000 y.l. melaporkan bahwa ada lebih dari 300.000 perusahaan di Amerika Serikat yang menggunakan EDI. Bandingkan dengan laporan Elana Varon, yang pada edisi September 2001 dari majalah yang sama menyebutkan bahwa pengguna EDI di negara tersebut sudah mencapai 500.000an.
XML, Alternatif Berbasis Web
XML, bakuan pendefinisian data yang dikembangkan dan dikelola oleh World Wide Web Consortium (W3C), menghilangkan kekakuan bakuan format, seperti yang ada pada EDI. Ia menyediakan tata-bahasa, atau himpunan peraturan-baku, untuk pertukaran data elektronik yang dengan mudah dapat diinterpretasikan dan digunakan oleh berbagai sistem dan aplikasi. Seperti diketahui, W3C adalah pengelola bakuan internet yang salahsatu cakupan tugas utamanya adalah memastikan bahwa www, bakuan yang digunakan semua website di dunia, dapat diakses dengan sukses oleh semua pihak. Adalah teknik www inilah yang membuka jejaring internet dan membuatnya accessible oleh semua sistem komputer.

Karena keluwesannya, XML semakin penting dalam semua konteks pertukaran data. Informasi yang diformat dalam XML dapat dipertukarkan oleh beragam aplikasi yang kini menggunakan EDI, antara lain Health Level 7 (HL7) dan Automated Clearing House (ACH). XML juga digunakan untuk mempresentasikan data ke sebuah browser seperti Netscape dan Internet Explorer, dan dapat dipakai sebagai markup language antara aplikasi spreadsheet dan word processing misalnya.
Prospek XML sebagai Pengganti EDI
Beberapa pihak menganggap XML belum terlalu siap (terbukti?) untuk menggantikan EDI dalam konteks aplikasinya di lingkup yang rigorous, di lingkungan di mana ia didaulat untuk “tahan banting” dengan jumlah transaksi yang besar. Karenanya, selama beberapa tahun mendatang, paling tidak sampai pertengahan dasawarsa 2000an, XML cenderung diadopsi oleh lingkup pertukaran data B2B (business-to-business) yang baru.

Untuk pemakai EDI yang mission sensitive, penggunaan XML cenderung masih bersifat komplementer, sebagai pelengkap di “pinggiran” jejaring, sebelum diperkirakan masuk “ring-satu” dan menggantikan EDI di sekitar akhir dasawarsa ini.

Bagi pengguna EDI berskala besar seperti TradeNet di Singapura dan EDI Kepabeanan di Indonesia, perubahan ke XML tidak akan terlalu menarik, terutama mengingat investasi yang telah dilakukan, besarnya investasi baru yang perlu ditanam, dan waktu-tunda sampai sistem yang baru dapat beroperasi. Seperti yang ditulis di majalah CIO lebih dari 10 tahun y.l., penerapan sistem-sistem seperti ini memerlukan “kesabaran, dana dan waktu.
Implentation IT
Dalam melakukan implementasi untuk mendapatkan kecepatan dalam suppy chain diperlukan tim yang kuat yangmengetahui kunci dan pengetahuan teknologi informasi. Dokumentasi yang rapih sangat diperlukan dalam membuat perencanaan dan pengembangan teknologi dalam supply chain.
 Interorganisational Information System (IOS)
IOS merupakan kumpulan dari sumber daya Teknologi Informasi (IT), termasuk didalamnya jaringan komunikasi data, hardware, aplikasi IT, prokotol untuk transmisi data, skill dan pengalaman manusia. IOS menyediakan framework untuk kerjasama di bidang elektronik diantara berbagai bisnis dengan memungkinkan untuk proses, sharing, serta komunikasi informasi. Karena hal tersebut penggunaan IOS dalam SCM meningkat secara drastis karena biaya untuk  memperoleh dan menukar informasi lebih hemat dan harga transaksi dapat diminimalkan. IOS juga memberikan kemudahan dalam berbagai bisnis dalam pembentukan patner dan aliansi supply chain.
Perkembangan IOS telah lebih dari 40 tahun dan dapat dikategorikan kedalam empat tahap (Shore,2001).
Tahap pertama,  menggunakan kertas untuk melayani pesanan, tagihan, faktur dan merepresentasikan aliran informasi. Teknologi infotmasi dan telekomunikasi tidak terlalu berpengaruh besar terhadap sistem informasi. Oleh karena itu, share informasi bersama antara proses bisnis dalam supply chain masih terbatas. Tahap ini, IOS berkembang dan digunakan dalam memperoleh informasi, tetapi pengembanganya masih terbatas.
Tahap kedua, tahap ini terjadi perkembangan EDI sehingga menimbulkan efek yang signifikan terhadap proses bisnis dengan terlihat adanya otomatisasi aliran informasi dan pengurangan tenaga kerja dalam proses bisnis serta adanya prosedure yang mengatur kerjasama dengan patner. Pembelian secara online, faktur, pemesanan produk atau jasa, penjadwalan transaksi dapat di proses menggunakan EDI.
Tahap ketiga, pada tahap ini terlihat dengan adanya sistem Enterprise-Wide dan basis data yang terintegrasi serta koordinasi dalam penggunaan teknologi informasi. Sistem ini dicirikan dengan sistem Enterprise Resource Planning (ERP). sistem ERP memiliki potensi untuk meningkatkan transparansi supply chain dengan mengurangi gangguan informasi dan meningkatkan kecepatan perrsebaran informasi.
Tahap keempat, pada tahap ini, supply chain di artikan sebagai strategi kerjasama antara suplier dengan aliran informasi dua arah. Integrasi sumberdaya informasi telah dimungkinkan dengan menggunakan teknologi web seperti XML dan java, sehingga memudahkan patner bisnis dalam memperoleh informasi dan akan mempercepat pengambilan keputusan dalam proses SCM. Sistem ini juga menyediakan platforms untuk komunikasi yang cepat dan handal diantara patner dagang dimanapun berada.
Penutup
Kesimpulan
Jadi saya dapat menyimpulkan bahwa EDI ( Electronic Data Interchange ) ini merupakan salah satu perkembangan teknologi yang berkaitan denga Sistem Informasi Manajemen. Salah satu aplikasi penggunaan EDI dalam membantu sistem infrormasi seperti yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu untuk memperlancar arus barang di pelabuhan. Pemakaian sistem EDl ini, juga akan menghindari human errordalam pemasukan data, karena pertukaran data/dokumen semuanya dilakukan secara “Computerized”. Selain itu, sistem EDI dapat mengurangi adanya praktek KKN, dan lain sebagainya.Penggunaan EDI banyak dianggap hanya menambah biaya dan memusykilkan pekerjaan. Menyebutkan bahwa IOS hanya sukses apabila diberlakukan pengendalian yang terpusat atas semua komponen teknologi informasi yang digunakan. Mulai dari perangkat-keras dan antarmuka jejaring yang digunakan sampai kepada format dan bakuan data yang dipertukarkan, diperlukan pengaturan yang ketat. Dengan istilah lain, di bilangan IOS tidak ada demokrasi teknologi. EDI, yang diperankan sebagai bakuan dari tata-kendali atas pertukaran data dalam sebuah penerapan IOS, mendapatkan porsi enforcement yang cukup vital. Dalam kaitan ini, bagian-bagian dari rantai-pasok yang kurang mendukung komputerisasi tidak jarang yang merasa „terpaksa” untuk menerapkannya. Akibatnya, dapatlah dikatakan bahwa entry barrier untuk masuk ke jejaring EDI sampai pertengahan tahun 1990an cukup tinggi.
Referensi
·         http://www.google.co.id/
·         http://www.ask.com/
·         http://www.bing.com/



2 komentar:

  1. gan, referensi edifact yang komplit apa ya gan? punyaku kurang lengkap itu http://datacomlink.blogspot.co.id/2016/09/pengantar-pertukaran-data-elektronik.html
    terima kasih

    BalasHapus